Kamis, 23 Juni 2016

Payung.

Aku mengenal seorang cenayang. Bukan benar-benar cenayang, aku hanya nyaman menjadikannya tempat cerita dan mempercayai hampir setiap nasehat dan ucapannya. Ku sebut ia cenayang dalam kisah ini karena aku merasa ia bisa melihat kamu yang lain. Entahlah.

Suatu hari aku bertanya ini dan itu, bercerita ini dan itu, meminta petuah apapun. Suasana hatiku terlalu kacau tapi aku lupa kenapa. Diakhir percakapan, "Ada kabar bagus buatmu dua minggu lagi. Jangan tanya itu apa,  tunggu saja". Wah, ada rasa penasaran dan ragu apakah aku harus percaya atau menertawakannya.

Satu minggu ...

Kamu sudah baca kisahku dengan Langit? Bagaimana aku masih selalu menatapnya padahal petirnya kapan saja siap menyambarku. Aku perlahan mulai tak peduli keadaan langit, tapi masih diam dibawah mendungnya dan tetap bersujud seperti sebelumnya. Kata-kata cenayang itu masih kunanti jawabannya dengan tidak sabar sampai minggu selanjutnya. Apakah Langit akan cerah lagi? Ah, itu bukan kabar bagus saat ini. Apakah sosok payung itu datang? Itu juga masih tidak baik, payung akan merusak usahaku menjadi baik. Wanita yang sedang dinaungi Langit mulai sadarkah? Nah, ini bisa jadi. Aku harus menyiapkan diri. Bisa jadi ia baik untukku tapi aku tidak suka.

Minggu kedua ...

Tak ada yang terjadi. Mungkin kepekaanku kurang. Atau ada sesuatu yang aku tidak suka padahal baik untukku. Kuingat-ingat sepanjang hari apa yang terjadi. Ah, sama saja seperti kemarin. Apakah ia datang besok? Atau cenayang itu berbohong? Ah, Sudah. Aku tak percaya kata-kata cenayang itu lagi. Caraku menghubunginya pun sudah susah sekali. Aku mengumpat dalam hati karena merasa ditipu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Subuh itu ada yang datang menyapa. Kukira hanya menyapa dan duduk saja sebentar. Apa yang dimau kusediakan. Lalu entah bagaimana kami bisa berbincang panjang lebar. Menceritakan keseharian. Ada yang merasa ini lebih dari sekedar niat menyapa dan mampir ngopi.

Aku menikmati kehadirannya. Beberapa hari setelah ramalan si cenayang. Tak ada perasaan apa-apa. Hanya merasa ia ada, menanyakanku, mengingatkanku, dan menemaniku. Aku tak memiliki pikiran apapun, hanya bersyukur ditemani. Ia menemaniku melihat Langit yang masih saja kelabu. Kelabu seperti kemarin-kemarin.

Beberapa hari yang lalu aku melihat Langit  cerah. Sangat cerah. Tapi bukan diatasku, diatas gadis itu. Dan gadis itu menyadarinya. Ah, Langit. Aku bisa membayangkan kebahagiaanmu.

Ia yang baru saja datang masih menemani aku menatap langit yang semakin jauh. Memintaku berteduh dan menghibur dengan caranya sendiri. Tapi aku masih merasa kosong.

Aku tahu apa yang kubutuhkan. Aku butuh mereka dan Payung. Aku tahu langit tetap.tak bergerak, tetap kelabu tak peduli. Tak akan hujan tak akan badai. Tapi aku tetap butuh Payung. 

Apakah ia Payung itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar