Kalau menemukanku sedang menangis saat tiba-tiba ia berkeliaran, sungguh itu bukan aku menangisi kepergiannya. Aku menangisi diriku sendiri.
Menulis dengan Hati
Siapapun yang ku inginkan hidup selamanya.
Jumat, 08 Juli 2016
Kamis, 23 Juni 2016
Payung.
Aku mengenal seorang cenayang. Bukan benar-benar cenayang, aku hanya nyaman menjadikannya tempat cerita dan mempercayai hampir setiap nasehat dan ucapannya. Ku sebut ia cenayang dalam kisah ini karena aku merasa ia bisa melihat kamu yang lain. Entahlah.
Suatu hari aku bertanya ini dan itu, bercerita ini dan itu, meminta petuah apapun. Suasana hatiku terlalu kacau tapi aku lupa kenapa. Diakhir percakapan, "Ada kabar bagus buatmu dua minggu lagi. Jangan tanya itu apa, tunggu saja". Wah, ada rasa penasaran dan ragu apakah aku harus percaya atau menertawakannya.
Satu minggu ...
Kamu sudah baca kisahku dengan Langit? Bagaimana aku masih selalu menatapnya padahal petirnya kapan saja siap menyambarku. Aku perlahan mulai tak peduli keadaan langit, tapi masih diam dibawah mendungnya dan tetap bersujud seperti sebelumnya. Kata-kata cenayang itu masih kunanti jawabannya dengan tidak sabar sampai minggu selanjutnya. Apakah Langit akan cerah lagi? Ah, itu bukan kabar bagus saat ini. Apakah sosok payung itu datang? Itu juga masih tidak baik, payung akan merusak usahaku menjadi baik. Wanita yang sedang dinaungi Langit mulai sadarkah? Nah, ini bisa jadi. Aku harus menyiapkan diri. Bisa jadi ia baik untukku tapi aku tidak suka.
Minggu kedua ...
Tak ada yang terjadi. Mungkin kepekaanku kurang. Atau ada sesuatu yang aku tidak suka padahal baik untukku. Kuingat-ingat sepanjang hari apa yang terjadi. Ah, sama saja seperti kemarin. Apakah ia datang besok? Atau cenayang itu berbohong? Ah, Sudah. Aku tak percaya kata-kata cenayang itu lagi. Caraku menghubunginya pun sudah susah sekali. Aku mengumpat dalam hati karena merasa ditipu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Subuh itu ada yang datang menyapa. Kukira hanya menyapa dan duduk saja sebentar. Apa yang dimau kusediakan. Lalu entah bagaimana kami bisa berbincang panjang lebar. Menceritakan keseharian. Ada yang merasa ini lebih dari sekedar niat menyapa dan mampir ngopi.
Aku menikmati kehadirannya. Beberapa hari setelah ramalan si cenayang. Tak ada perasaan apa-apa. Hanya merasa ia ada, menanyakanku, mengingatkanku, dan menemaniku. Aku tak memiliki pikiran apapun, hanya bersyukur ditemani. Ia menemaniku melihat Langit yang masih saja kelabu. Kelabu seperti kemarin-kemarin.
Beberapa hari yang lalu aku melihat Langit cerah. Sangat cerah. Tapi bukan diatasku, diatas gadis itu. Dan gadis itu menyadarinya. Ah, Langit. Aku bisa membayangkan kebahagiaanmu.
Ia yang baru saja datang masih menemani aku menatap langit yang semakin jauh. Memintaku berteduh dan menghibur dengan caranya sendiri. Tapi aku masih merasa kosong.
Aku tahu apa yang kubutuhkan. Aku butuh mereka dan Payung. Aku tahu langit tetap.tak bergerak, tetap kelabu tak peduli. Tak akan hujan tak akan badai. Tapi aku tetap butuh Payung.
Apakah ia Payung itu?
Senin, 06 Juni 2016
Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah Yang Kamu Dustakan
Jadi bagaimana orang yang merasa sok kenal dengan Tuhannya menulis tentang Tuhan?
Aku hanya tahu Tuhanku sesuai dengan prasangkaku. Jika aku berprasangka Ia baik, baiklah Ia.
Tapi sering Ia memberi rasa sakit, rasa tidak nyaman, rasa kekurangan. Agar Ia bisa memberi kita rasa nikmat setelah semua rasa.
Diciptakannya panas agar kita gerah, lalu diembuskan angin.
Diberikan perintah agar kita puasa, lalu kita diminta berbuka.
Diberikannya kita sakit hati, lalu Ia menentramkan.
فباي الاءربكماتكذبن. (الرحمن:١٣)
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman: 13)
Apa yang sedang terjadi, baik atau buruk, semua nikmat. Nikmatilah ☺
Tuhan sedang rindu.
2 Ramadan 1437 H
Rabu, 01 Juni 2016
Hujan Awal Juni
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono
Sore ini, awal juni, hujan turun. Sedikit. Sebentar. Tapi cukup dingin. Bau tanah menjelang hujan berbaur dengan aroma buku baru yang sudah lama tak dibuka. Kisah Pingkan dan Sarwono yang belum selesai kubaca.
Ada kisah kita yang ku doakan masih belum selesai.
Ada kisah kita yang ku doakan masih belum selesai.
Jember, Awal Juni 2016
Selasa, 31 Mei 2016
Ku Sebut Kamu Langit.
Sudah lama aku tidak menulis online. Aku menulis tapi di medsos. Ketika membuka blog ini, ternyata sudah lama sekali. Terakhir saat kamu UTS di sekolah kebanggan setiap orang tua.
Ah ya, saat itu aku menemanimu. Masa-masa sulit itu kini terasa manis. Aku rindu? Ya. Sangat. Merindukanmu, merindukan kenangan. Aku tak tahu apa yang kamu rasakan. Rindu juga?
Saat sedang menulis ini, aku sedang sakit. Dingin terlalu menusuk. Tapi sekarang, bercerita tentangmu cukup menghangatkanku. Kamu apa kabar? Kamu sehat kan?
Aku sudah tak memaksamu untuk merindukanku, tak memaksamu pulang, tak memaksamu bertemu. Tak memaksamu. Karena bukan hakku lagi melakukannya. Bahkan saat kamu masih bersamaku pun, hakku tak terpenuhi.
Ku sebut kamu apa dikisah ini sekarang? Kalau ditulisan sebelumnya kupanggil kamu sayang. Aku sayang, tapi sudah tak layak untukku memanggilmu dengan sebutan itu. Bagaimana ku sebut kamu Langit? Langit tinggi, luas, indah, dan tak terjangkau. Sama sepertimu.
Setelah kamu pergi, aku patah. Sepatah-patahnya. Ku akui. Entah kamu baca ini atau tidak, aku memang tampak tak punya harga diri. Tapi aku tidak munafik. Ya, aku patah. Apa yang membuatku sepatah ini? Karena semua telah jauh. Jalan awal kita sudah tak tampak, yang ada jalan di depan yang akan saaaangat panjang. Bahkan memulai pun kamu sudah lelah.
Langitku, sakit hati macam apa yang membuatmu pergi? Semua laki-laki dalam inner circle-ku semua kukenalkan. Aku tak pernah menipumu. Aku tak pernah merahasiakan apapun. Aku selalu mencari jalan agar bisa tetap menemanimu. Lalu, sakit hati macam apa hai Langit? Ngilu macam apa yang membuatmu kelabu dan menggelegarkan halilintar?
Ya. Kamu yang biru dulu, kini mengelabu dihadapanku. Awanmu yang teduh, kini mengeluarkan suara-suara menyakitkan. Apa musim telah berganti?
Semua memintaku berteduh, jangan menatap langit, jangan mendekatinya. Kata mereka aku akan terluka. Bahkan jika harus terluka aku tidak apa-apa hai Langit. Mereka memintaku mencari sosok payung. Buat apa payung? Air yang akan kau tumpahkan, gelegar yang akan kau gemakan, dan gelap yang kau tunjukkan aku mencintainya. Aku tak butuh payung.
Tapi Langit, aku tahu disisi lain dari tempatku menyaksikanmu kelabu, kamu membiru indah. Untuk dia yang kamu sayang. Sadarkah dia pada kehadiranmu di atasnya? Seperti aku yang sadar kamu biru atau kelabu.
Ah, bukankah badai pasti berlalu? Bukankah tak selamanya mendung menggelayut? Langitku, aku meminta pada pemilikmu, penciptaku sambil terus menengadah. Sesekali aku bersujud. Dengan hujan dimataku yang mendahului hujanmu. Aku meminta untuk meniupkan angin. Agar kelammu kembali biru. Buang saja mendungmu pada laut.
Langitku, pernahkah engkau hidup menjadi seorang pencinta? Hanya tahu mencintai saja. Mencintai semua yang berasal dari yang kau cinta?
Jember, Penghujung Mei 2016
Label:
cinta,
langit,
mendung,
patah hati,
tuhan
Langganan:
Komentar (Atom)