Selasa, 31 Mei 2016

Ku Sebut Kamu Langit.

Sudah lama aku tidak menulis online. Aku menulis tapi di medsos. Ketika membuka blog ini, ternyata sudah lama sekali. Terakhir saat kamu UTS di sekolah kebanggan setiap orang tua.
Ah ya, saat itu aku menemanimu. Masa-masa sulit itu kini terasa manis. Aku rindu? Ya. Sangat. Merindukanmu, merindukan kenangan. Aku tak tahu apa yang kamu rasakan. Rindu juga?
Saat sedang menulis ini, aku sedang sakit. Dingin terlalu menusuk. Tapi sekarang, bercerita tentangmu cukup menghangatkanku. Kamu apa kabar? Kamu sehat kan?
Aku sudah tak memaksamu untuk merindukanku, tak memaksamu pulang, tak memaksamu bertemu. Tak memaksamu. Karena bukan hakku lagi melakukannya. Bahkan saat kamu masih bersamaku pun, hakku tak terpenuhi.
Ku sebut kamu apa dikisah ini sekarang? Kalau ditulisan sebelumnya kupanggil kamu sayang. Aku sayang, tapi sudah tak layak untukku memanggilmu dengan sebutan itu. Bagaimana ku sebut kamu Langit? Langit tinggi, luas, indah, dan tak terjangkau. Sama sepertimu.
Setelah kamu pergi, aku patah. Sepatah-patahnya. Ku akui. Entah kamu baca ini atau tidak, aku memang tampak tak punya harga diri. Tapi aku tidak munafik. Ya, aku patah. Apa yang membuatku sepatah ini? Karena semua telah jauh. Jalan awal kita sudah tak tampak, yang ada jalan di depan yang akan saaaangat panjang. Bahkan memulai pun kamu sudah lelah.
Langitku, sakit hati macam apa yang membuatmu pergi? Semua laki-laki dalam inner circle-ku semua kukenalkan. Aku tak pernah menipumu. Aku tak pernah merahasiakan apapun. Aku selalu mencari jalan agar bisa tetap menemanimu. Lalu, sakit hati macam apa hai Langit? Ngilu macam apa yang membuatmu kelabu dan menggelegarkan halilintar?
Ya. Kamu yang biru dulu, kini mengelabu dihadapanku. Awanmu yang teduh, kini mengeluarkan suara-suara menyakitkan. Apa musim telah berganti?
Semua memintaku berteduh, jangan menatap langit, jangan mendekatinya. Kata mereka aku akan terluka. Bahkan jika harus terluka aku tidak apa-apa hai Langit. Mereka memintaku mencari sosok payung. Buat apa payung? Air yang akan kau tumpahkan, gelegar yang akan kau gemakan, dan gelap yang kau tunjukkan aku mencintainya. Aku tak butuh payung.
Tapi Langit, aku tahu disisi lain dari tempatku menyaksikanmu kelabu, kamu membiru indah. Untuk dia yang kamu sayang. Sadarkah dia pada kehadiranmu di atasnya? Seperti aku yang sadar kamu biru atau kelabu.
Ah, bukankah badai pasti berlalu? Bukankah tak selamanya mendung menggelayut? Langitku, aku meminta pada pemilikmu, penciptaku sambil terus menengadah. Sesekali aku bersujud. Dengan hujan dimataku yang mendahului hujanmu. Aku meminta untuk meniupkan angin. Agar kelammu kembali biru. Buang saja mendungmu pada laut.
Langitku, pernahkah engkau hidup menjadi seorang pencinta? Hanya tahu mencintai saja. Mencintai semua yang berasal dari yang kau cinta?

Jember, Penghujung Mei 2016